Stock Picks

 

IHSG Magnificent Seven! Kini Hadapi "Tembok Tebal" di 5.163

Posted on: Wednesday, October 14, 2020

 

Jakarta, CNBC Indonesia - padahal sempat tertekan di awal perdagangan. Bursa Kebanggaan Tanah Air ini membukukan penguatan 0,78% ke 5.132,572. Dengan demikian, IHSG sudah sukses mencatat penguatan 7 hari beruntun dengan total 4,18%.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 112 miliar di pasar reguler dengan nilai transaksi mencapai Rp 9 triliun.

Bank Indonesia (BI) yang mengumumkan suku bunga jelang penutupan perdagangan kemarin mampu mendongkrak sentimen pelaku pasar. BI memang mempertahankan suku bunga 7 Day Reverse Repo Rate 4%, tetapi ada kabar bagus lainnya.

BI memperkirakan transaksi berjalan atau current account pada kuartal III-2020 bisa mencatatkan surplus. Jika terwujud maka akan menjadi surplus pertama sejak 2011.

"Transaksi berjalan pada kuartal III-2020 diperkirakan akan mencatat surplus. Dipengaruhi oleh perbaikan ekspor dan penyesuaian impor sejalan dengan permintaan domestik yang belum cukup kuat," ungkap Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usar Rapat Dewan Gubernur Periode September 2020, Selasa (13/10/2020).

Dengan surplus transaksi berjalan, artinya pasokan devisa cukup besar dan BI punya lebih banyak amunisi menstabilkan rupiah. Stabilitas rupiah membuat investor menjadi lebih nyaman berinvestasi di dalam negeri. Alhasil, sentimen pelaku pasar pun membaik.

Setelah membukukan penguatan 7 hari beruntun, tantangan bagi IHSG untuk kembali menguat pada hari ini, Rabu (14/10/2020) cukup berat. Penguatan lebih dari 4% selama periode tersebut tentunya rentan diterpa aksi ambil untung (profit taking). Apalagi bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street yang merupakan kiblat bursa saham dunia melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat.

Stimulus fiskal di AS yang masih belum ada kejelasan memberikan tekanan bagi Wall Street, dan sepertinya merembet ke Asia pagi ini.

Secara teknikal, IHSG berhasil menembus cukup jauh ke atas level 5.115 yang menjadi resisten kuat sebab berada di garis rerata pergerakan 50 hari (Moving Average/MA 50) yang ditunjukkan garis hijau.

Indikator stochastic pada grafik harian sudah memasuki wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Sementara itu, indikator Stochastic grafik 1 jam juga berada di wilayah overbought, sehingga ada risiko terjadinya koreksi.

Resisten terdekat yang akan jadi "tembok tebal" kini berada di 5.163 yang merupakan Fibonnaci Retracement 50%. Fibonnaci tersebut ditarik dari level tertinggi September 2019 di 6.414 ke level terlemah tahun ini 3.911 pada grafik harian.

Jika mampu menembus konsisten di atas level tersebut, IHSG berpeluang melesat naik ke 5.210.

Sementara itu selama tertahan di bawah resisten tersebut IHSG berisiko mengalami koreksi ke 5.100, mengingat indikator stochastic yang overbought di grafik harian dan 1 jam. Penembusan di bawah level tersebut akan membawa IHSG turun ke kisaran 5.070.



TIM RISET CNBC INDONESIA
Sumber: "https://www.cnbcindonesia.com/market/20201014074356-17-194151/ihsg-magnificent-seven-kini-hadapi-tembok-tebal-di-5163"